Alasan Online Shop Kurang Begitu Berkembang di Sosmed

Bisnis315 Dilihat


Di sosial media ada banyak sekali akun yang berjualan. Konsumen bisa langsung membeli dari sosial media, mentransfer sejumlah uang sesuai harga yang tertera ke nomor rekening tertentu, dan menunggu hingga produk dikirimkan ke alamat tujuan. Tren ini lalu mulai padam seiring berjalannya waktu. Akun online shop masih ada di sosmed, tapi yang sukses tidak begitu banyak. Kebanyakan orang lebih memilih belanja dari aplikasi yang memang fokus di bidang online shop. Kenapa online shop kurang begitu berkembang di sosmed? 

Apa Pendapat Konsumen Terkait Belanja di Sosmed?

Dari penelitian yang dilakukan Hubspot, hanya sekitar 41% pengguna sosmed yang merasa nyaman belanja produk langsung di aplikasi sosmed dan hanya 37% yang percaya dengan info yang ada di sosmed. Terkait pembelian produk di sosmed, hanya sekitar 21% yang menganggap produknya berkualitas tinggi. 

Meski begitu, ada sekitar 1 dari 5 pengguna sosmed yang masih belanja dari aplikasi sosmed secara reguler. Selain itu, ada sekitar 75% pengguna sosmed yang merasa puas dengan produk yang mereka beli. Lalu apa yang membuat orang ragu belanja di aplikasi sosmed?

Kekhawatiran Terbesar Akan Belanja di Sosmed

Online sales concept Trolley with paper boxes on a keyboard

Sumber : Freepik

Sejauh ini, kekhawatiran terbesar berbelanja langsung di sosmed adalah perusahaan atau penjual yang berjualan di sosmed ternyata tidak resmi dan hanya berniat menipu pengguna sosmed. Konsumen banyak yang curiga dan meragukan kualitas produk yang ditawarkan. Ini terjadi karena memang banyak pihak yang melakukan penipuan. Apa yang dijual sama sekali tidak sesuai dengan foto yang diposting di sosmed. 

Kekhawatiran yang kedua adalah konsumen khawatir mereka tidak bisa mendapatkan refund dari pembelian mereka jika ternyata produknya tidak sesuai ekspektasi. Dalam sosmed tidak ada fitur pengembalian seperti di aplikasi belanja online, jadi kebanyakan kasus memang tidak memberlakukan refund.

Di tempat ketiga, kekhawatirannya adalah kualitas produk tidak seperti yang dijanjikan. Sayangnya, ini memang sering terjadi sampai-sampai tren belanja di sosmed langsung menurun drastis. Lalu kekhawatiran yang keempat adalah konsumen ragu memberikan informasi terkait kartu debit dan kartu kredit ke sosmed. 

Apa yang Bisa Dilakukan Penjual untuk Membangun Rasa Percaya?

Mini basket with bags for groceries and goods. Against the background of boke.

Sumber : Freepik

Meski mendapat kepercayaan yang tidak terlalu banyak dari konsumen, bukan berarti sosmed tidak bisa digunakan sama sekali. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan penjual untuk membangun rasa percaya berjualan di sosmed:

Menepati Janji yang Sudah Dibuat pada Pelanggan

Pertama-tama, atasi langsung kekhawatiran konsumen dengan menjanjikan beberapa hal dan menepatinya untuk memuaskan konsumen. Di antaranya terkait:

  • Kecepatan pengiriman dan transparansi pengiriman. 
  • Pengembalian dana atau jaminan refund. 
  • Ketersediaan customer service. 

Bangun Komunitas

Bina komunitas dari rasa saling percaya dengan audience. Cara membangunnya adalah dengan selalu tanggap dalam menanggapi komentar dan pertanyaan mereka. Dengan begitu, penjual akan mengatasi kekhawatiran konsumen dan bahkan bisa mendapatkan masukan yang berharga dari konsumen. Selain itu, penjual juga bisa membangun komunitas dengan cara membuat postingan lucu atau informatif yang relevan dengan produk yang dijual.

Meningkatkan Engagement dengan Konsumen

Rekomendasi dari mulut ke mulut terbukti masih ampuh hingga saat ini. Karena itu, penting sekali untuk meningkatkan engagement dengan konsumen untuk menciptakan pengalaman membeli yang menyenangkan. Kalau konsumen puas saat membeli barang, maka mereka akan menceritakannya ke orang terdekat, entah itu keluarga atau teman. Ini akan berdampak ke angka penjualan.




Bisnis